politeethics


KRISIS SURIAH : GEOPOLITIK PEMERINTAHAN SURIAH DAN MODAL POLITIK RUSIA
May 20, 2012, 11:56 am
Filed under: Eudai-monia

1 Krisis Suriah

            Kondisi politik di Suriah medio 2011-2012 ini berada pada kondisi krisis. Aktivis-aktivis politik di Suriah menuntut pengunduran dan/atau pemecatan Bashar Al-Assad yang dianugerahi jabatan Presiden setelah meninggalnya presiden sebelumnya yang juga ayah Assad, Hafez Al-Assad pada tahun 2000 lalu. Keluarga Assad telah memerintah Suriah dalam kurun waktu 41 tahun terhitung 2012, semenjak Hafez Al-Assad merebut tampuk kepemimpinan melalui kudeta berdarah pada tahun 1971.

            Awalnya, penduduk Suriah dan dunia menyangka bahwa Bashar Al-Assad memiliki pola pikir yang berorientasi pada perbaikan keadaan. Harapan ini hadir setelah selama 29 tahun berada di bawah kepemimpinan Hafez, Suriah tidak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang signifikan dalam ekonomi dan politik. Namun, harapan ini seolah bertepuk sebelah tangan setelah Bashar Al-Assad memberikan respon militer terhadap pemberontakan yang muncul di Suriah. Pandangan awal mengenai sosok pemimpin yang menawarkan harapan baru ini berubah menjadi power oriented, bahwa ia akan melakukan apapun untuk dapat mengamankan kekuasaan yang telah digenggam oleh Alawite selama ini.

            Partai berkuasa, Ba’ath menawarkan visi sosialis dan nasionalis Arab. Suriah menjadi sebuah negara yang sekuler dengan memberi toleransi kepada minoritas yang religius namun tidak ada toleransi untuk perselisihan dan ketidaksetujuan terhadap pemerintah[1].

            Partai berkuasa Ba’ath tidak berkuasa dengan nyaman. Suriah memiliki kelompok-kelompok oposisi untuk menyeimbangkan kekuasaan di Suriah. Kelompok-kelompok oposisi di Suriah terbagi ke dalam beberapa kelompok dengan kelompok yang paling besar ialah Dewan Keamanan Suriah. Dewan Keamanan Nasional Suriah beroperasi dari luar Suriah dan anggotanya terdiri dari banyak golongan. Terinspirasi dari gerakan-gerakan revolusi di Tunisia, Mesir, Yaman, dan Libya, kelompok-kelompok oposisi Suriah mulai bergerak untuk mengancam kemapanan kekuasaan dari rezim Assad. Protes kepada Assad dimulai pada bulan Maret 2011 di kota-kota seperti Daara, Homs, Hama, dan Latakia. Demonstrasi dimulai setelah beberapa anak-anak di kota Daara ditangkap dan disiksa selama berada di dalam tahanan setelah membuat grafiti anti rezim Assad dengan cat semprot di dinding sekolah mereka.

            Sebagai respon terhadap demonstrasi yang terus berlanjut, pemerintah melakukan dominasi dengan menurunkan angkatan bersenjata dalam proses penangan konflik dalam negeri Suriah. Selain itu, pemerintah juga menerapkan taktik-taktik untuk membuat perlawanan sipil di Suriah mereda. Pemerintah menutup aliran air di kota-kota tempat demonstran bereskalasi, menyumbat suplai makanan, dan menyebarkan tanks dan sniper di jalan-jalan. Tujuannya agar orang-orang tidak lagi turun ke jalan untuk mengadakan perlawanan.

            Dengan serangan berdarah yang terus-menerus dilancarkan oleh angakatan bersenjata di pihak pemerintah untuk menghentikan langkah demonstran di Kota Homs dan kota-kota lainnya menyebabkan jatuhnya ribuan korban jiwa. PBB mengklaim korban jiwa yang jatuh selama krisis Suriah berjumlah 9000 jiwa sedangkan Dewan keamanan Nasional Suriah menambahkan 1000 jiwa lagi sebagai jumlah korban jiwa yang jatuh selama kurang lebih setahun pemberontakan.

            Kondisi terakhir, Suriah telah mengadakan pemilihan umum anggota parlemen pada 7 Mei lalu. Pemilihan umum ini merupakan manifestasi perbaikan politik yang dilakukan oleh Presiden Bashar Al-Assad. Namun, oposisi menganggap hal ini sebagai reformasi pura-pura yang dilakukan Assad yang tidak lain bertujuan untuk melegalisasi pemerintahannya. Walaupun terdapat janji gencatan senjata antara pemerintah dan oposisi, namun hingga Mei ini pertumbuhan darah masih berlanjut.

2 Geopolitik Pemerintah Suriah

            Semenjak krisis, telah ribuan korban jiwa jatuh di Suriah. Memasuki 2012 yang berarti setahun pemberontakan dan krisis berlangsung, konflik dalam negeri Suriah ini cenderung fluktuatif. Pemberontakan terus berlangsung diiringi dengan tindakan represif dari pemerintah untuk menanggulangi gejolak yang mengancam kemapanan Partai Ba’ath dalam pemerintahan Suriah. Tidak mengherankan jika krisis di Suriah menjadi sorotan penuh media internasional setelah pergerakan musim semi Arab selesai di Tunisia, Mesir, Yaman, dan Libya.

            Selama ini pemberitaan di media massa tidak lebih dari pemfokusan liputan kepada kekejaman pemerintah terhadap masyarakatnya sendiri. Dampak dari perhatian yang besar pada tindakan represif pemerintah ini menimbulkan pemikiran pada para konsumen berita bahwa kekejaman di negara itu harus segera berakhir, tidak bisa dibiarkan berlarut-larut[2]. Keresahan warga dunia terhadap bencana kemanusiaan yang terjadi di Suriah disambut oleh Liga Arab dan Eropa, dengan tanggung jawab untuk melindungi dan menjunjung tinggi kemanusian, untuk ikut serta dalam proses resolusi konflik di Suriah. Pada 27 Desember 2011 hingga 19 Januari 2012 sebanyak 60 pengawas dari Liga Arab masuk ke Suriah untuk mempelajari situasi agar bisa menghasilkan sebuah resolusi. Namun, pengawasan yang dilakukan oleh wakil dari Liga Arab ini tidak bisa berjalan lancar dan konflik yang terjadi semakin meningkat. Setelah Suriah menarik diri dari Liga Arab, kita dapat merasakan bahwa terjadi pertentangan antara pemerintah Suriah dengan Liga Arab.

            Pertanyaannya, jika hanya untuk mengamankan kekuasaan, apakah kerjasama antara pemerintah dan militer dapat bertahan selama ini? Kenapa pemerintah Suriah memberikan respon kepada demonstran dan pemberontak pemerintah berupa represi dari militer dan dari pemerintah? Kenapa masyarakat sipil turut dikorbankan oleh pemerintah Suriah? Selagi media fokus kepada bencana kemanusiaan, kekejaman pemerintah, dan penderitaan masyarakat, terdapat jalan hilang yang tidak terlalu banyak dibicarakan di media massa. Jika tidak melindungi sesuatu yang penting dan berharga, tidak mungkin sebuah pemerintah dalam masa politik modern seperti saat ini bertindak menekan warga sendiri. Memang tidak dapat disangkal bahwa pemerintah Suriah telah bertindak kejam dengan memberangus warga negaranya sendiri. Pemerintah Suriah mempunyai alasan sendiri untuk menjustifikasi kebijakannya dalam memberi respon terhadap pemberontakan yang terjadi.

            Suriah merupakan sebuah negara yang multietnik dan multiagama dengan mayoritas Islam Sunni. Kekuatan politik negara ini dipegang oleh Syiah Alawite yang merupakan minoritas di negara tersebut. Melihat keadaan ini, tidak heran jika kebijakan pemerintah Suriah di luar negeri sangat erat hubungannya dengan pemerintahan Syiah Iran. Bergugurannya pemerintahan Syiah di Timur Tengah membuat Suriah dan Iran menjadi salah dua pemerintahan Syiah yang tersisa di Timur Tengah. Melihat keadaan ini, tidaklah salah jika kisruh di Suriah dihubungkan dengan rivalitas geopolitik di Timur Tengah, yaitu rivalitas Syiah dengan sudut pandang konservatif, yaitu pemerintahan Sunni, khususnya Arab Saudi. Terdapat suatu misi tersembunyi dibalik vokalnya Arab Saudi dan Qatar dalam penyelesaian konflik Suriah[3]. Kedua negara ini mengkritik habis-habisan rezim Assad karena telah menghadirkan bencana kemanusiaan bagi masyarakat Suriah. Pemerintahan Suriah yang merupakan Syiah merasa terancam dengan kemungkinan takluknya pemerintahannya di negaranya sendiri sedangkan Suriah merupakan sebuah negara yang berdaulat.

            Perasaan terancam ini membuat pemerintahan Suriah tidak punya pilihan lain untuk bertahan selain menyertakan angkatan bersenjata dalam tindakan represif ini. Di lain pihak, kita juga tidak mengetahui apa tujuan sebenarnya oposisi Suriah melakukan perlawanan begitu keras, menurunkan demonstran yang juga bersenjata bernama Free Syrian Army, dan tidak menyambut baik perbaikan yang dibawa oleh Presiden Bashar Al-Assad dalam penyelenggaraan pemilihan umum 7 Mei lalu.

            Maka krisis Suriah cukup aneh jika dilihat dari segi moral, dari segi kemanusiaan saja. Krisis Suriah telah masuk ke dalam ranah geopolitik Timur Tengah dengan keikutsertaan aktif Arab Saudi dan Qatar yang tidak suka dengan pemerintahan Syiah[4]. Jelas, bahwa pertimbangan lain pemerintah Suriah mengadakan tindakan represif terhadap warganya sendiri adalah bentuk tanggapan terhadap ancaman geopolitik Timur Tengah tersebut. Pemerintah Suriah menganggap bahwa terdapat intervensi asing di belakang pemberontakan yang dilakukan warga dan menjadikan warga sipil Suriah sebagai perisai manusia agar mereka dapat bergerak leluasa untuk dapat merebut pemeirntahan dan menjatuhkan kekuasaan Syiah Alawite yang telah berjalan selama 41 tahun tersebut.

3 Krisis Suriah sebagai Modal Politik Rusia

            Banyak pihak yang terlibat di dalam krisis Suriah. Liga Arab, Turki, Kanada, PBB, negara-negara Eropa, Amerika Serikat, China, dan lain-lain memiliki kaitan dengan apa yang terjadi di Suriah saat ini dan berdiri di atas kepentingan mereka masing-masing. Beberapa memiliki singgungan kepentingan sehingga bersatu dalam gerakan dan beberapa berdiri sendiri sehingga harus berjuang tanpa kawan. Namun, yang menarik adalah keterlibatan Rusia dalam kasus Suriah. Dalam, perspektif hubungan internasional, akan banyak hal-hal yang dapat dibahas. Dari segi politik masing-masing negara, akan memberikan informasi dan pemahaman yang menarik.

            Rusia (bersama China) merupakan aliansi terkuat dari Suriah. Sepak terjang Rusia tidak hanya terbatas dalam forum PBB atau meja perundingan untuk membicarakan masa depan Suriah dan rezim Assad yang dituntut dunia untuk meletakkan jabatannya. Terhitung dari tahun 2006 hingga 2011 dan awal 2012 ini, ekspor senjata dari Rusia ke Suriah telah meningkat sebanyak 600%. Kedua negara terlibat kerjasama dalam masalah kemanan negara. Selain itu, Suriah juga menyediakan pijakan bagi Rusia dengan terdapatnya pangkalan militer Rusia di kota Tartus yang strategis. Suriah ibarat mercusuar bagi Rusia menyebar pengaruhnya di Timur Tengah.

            Ada tidaknya pengaruh keterlibatan Rusia terhadap krisis di Suriah setidaknya tergambar ketika Rusia akan mengadakan pemilihan umum. Pada 4 Maret 2012, rakyat Suriah pro rezim Assad turun dan mendatangi kedutaan Rusia di Suriah. Mereka menyampaikan dukungan dan harapan agar pemilihan presiden kali ini dapat dimenangkan oleh Vladimir Putin[5]. Alasan mereka mendukung Vladimir Putin ialah karena perdana menteri yang kini terpilih menjadi presiden Rusia ini sangat memberi perhatian kepada Suriah. Di saat Suriah diasingkan dari pergaulan dunia, Rusia tetap bertahan untuk mendukung dan mermbantu Suriah. Apapun yang dikatakan di media bahwa Putin mengatakan Suriah dan Rusia tidak mempunyai hubungan apa-apa tidak lebih dari sekedar pernyataan politis. Hal ini menggambarkan bagaimana isu Suriah sebagai geopolitik Rusia memberikan dampak terhadap situasi politik dalam negeri Rusia.

            Kemenangan diplomasi yang dilakukan Putin dalam krisis Suriah berdampak kepada tingkat popularitasnya di berbagai wilayah di Rusia, kecuali di Moskow. Kesepakatan yang dicapai dalam krisis Suriah, yaitu dengan mengutamakan jalur diplomasi dan perundingan dibandingkan dengan intervensi militer internasional adalah prestasi luar biasa yang didapat oleh Putin dalam upayanya memperbaiki pengaruh politik dan ekonomi Rusia di dunia pasca runtuhnya pemerintahan komunis pada tahun 1991. Selain untuk modal politik Putin untuk bertaqnding dalam pemilihan presiden Rusia, Suriah juga penting untuk modal politik Rusia di Timur Tengah yang menghasilkan sepertiga produksi minyak dunia.

            Isu Suriah menjadi bertambah penting bagi politik dalam negeri Rusia selama masa pemilihan umum parlemen dan presiden dengan turut sertanya Uni Eropa dan Amerika Serikat dalam usaha untuk dapat melakukan intervensi sebagai resolusi konflik di Suriah. Amerika Serikat dan sekutu berusaha untuk melakukan hal yang sama dan meraih keuntungan dibalik wajah kemanusiaan yang mereka perjuangkan di forum-forum dan media internasional seperti yang mereka lakukan di Libya. Rusia lebih condong untuk penyelesaian konflik secara damai melalui perundingan antar berbagai pihak yang memiliki kepentingan. Penyelesaian konflik seperti yang terjadi di Yaman adalah lebih lebik dibanding intervensi militer. Retorika Putin yang memberi keuntungan kepada dirinya saat pemilihan presiden berkenaan dengan krisis Suriah ini adalah bahwa Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya ingin mengontrol segalanya dan ingin menentukan keputusan sepihak dalam masalah-masalah yang krusial bagi dunia internasional. Pernyataan geopolitik tersebut telah membuat Putin memenangi pemilihan Presiden untuk masa 6 tahun ke depan karena mendapat dukungan yang banyak di kota-kota di Rusia yang jauh dari Moskow. Satu-satunya masyarakat yang tidak takluk dengan isu yang dibawa oleh Putin tidak lain dan tidak bukan adalah Moskow sendiri. Tetapi warga Moskow tidak suka terhadap kecurangan yang dilakukan oleh Putin selama proses pemilihan Presiden walaupun mereka yakin bahwa Putin akan memenangkan pemilihan Presiden dengan mudah. Dengan peran penting yang dimiliki oleh Rusia saat ini dalam proses penyelesaian krisis telah membuat posisi Rusia dalam politik internasional semakin penting[6].

            Hal yang membuat Rusia bertahan untuk memberi dukungan kepada Suriah ialah keyakinan Rusia bahwa semua Timur Tengah adalah konspirasi Barat. Amerika Serikat ingin melanjutkan hegemoninya di dunia[7].  Bahkan, 6 hari sebelum pemilihan Presiden, Putin memperingatkan Liga Arab, Uni Eropa, dan Amerika Serikat bahwa intervensi militer bukanlah jawaban untuk penyelesaian konflik. Hal ini hanya akan menambah konflik yang telah terjadi di Suriah. Masuknya militer internasional ke dalam Suriah untuk memerangi pasukan rezim Assad bukanlah sebuah tindakan yang baik. Korban yang berjatuhan akan semakin banyak dan kehancuran akan semakin luas karena rezim Assad akan bertahan. Rusia percaya bahwa logika memperjuangkan kemanusiaan dalam intervensi militer internasional adalah salah arah. Kebijakan luar negeri Rusia ialah hanya masyarakat Suriah yang bisa memutuskan masa depan terbaik untuk mereka. Merekalah yang memutuskan siapa yang berhak dan berkualitas untuk memerintah di Suriah.

            Permasalahan Suriah tidak bisa dipisahkan dengan pemilihan presiden Rusia. Mengenai kebijakan luar negeri Rusia terhadap Suriah mempengaruhi dukungan terhadap kandidiat presiden yang maju. Semua orang sudah memperkirakan bahwa Putin akan memenagkan pemilihan karena tingkat popularitasnya dengan usaha keras yang dilakukan untuk mengembalikan supremasi Soviet. Namun, Putin harus dapat bertanggung jawab kepada demonstran yang turun ke jalan dengan melayangkan protes terhadap arah kebijakan yang diambil Putin. Walaupun tidak banyak, kemenangan Putin akan membawa reformasi politik di Rusia, yaitu Rusia yang lebih demokratis,  dan sedikit perubahan dalam kebijakan luar negeri,termasuk krisis Suriah.

            Pada Februari hingga Maret 2012, saat persiapan pemilihan umum hangat dibicarakan dan menjadi topik utama berita politik di Rusia, permasalahan Suriah masih tetap menjadi isu yang tidak dapat ditinggalkan. Di saat Putin terpilih dan sibuk menyusun kabinet pemerintahannya, Putin tidak meninggalkan perannya dalam kasus Suriah dengan diwakili oleh Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia. Walaupun dengan bergantinya tampuk kepemimpinan formal Rusia, akan sulit untuk terciptanya perubahan kebijakan yang radikal dalam kasus Suriah. Rusia mempunyai alasan penting tersendiri kenapa mereka memberi dukungan agar kedaulatan Suriah terjaga tanpa intervensi militer internasional. Pertama, dapat kita lihat dari alasan regional dan kepentingan global dari Rusia. Semenjak keruntuhan Soviet, pengaruh politik dan ekonomi Rusia di dunia perlahan memudar. Oleh karena itu, dengan melindungi aliansi dan negara-negara yang telah membangun hubungan semenjak zaman Soviet adalah berharga untuk dipertahankan oleh Rusia. Alasan kedua ialah oposisi yang tidak bersatu di Suriah. Hal ini membuat Rusia tidak atau belum yakin dengan siapa mereka akan bekerjasama dalam konteks Suriah jika rezim Assad berakhir. Rusia mencoba bermain aman untuk tetap melindungi kedaulatan Suriah dan menjaga hubungan dan kerjasama dengan negara itu.


[1] CBC News, 2012, Syria in Crisis, diakses 10 Mei 2012

[2] Rein Müllerson, 2012, Syria, Morality andGeopolitics, http://www.opendemocracy.org , diakses 10 Mei 2012

[3] Ibid

[4] Farooq Sulehria, 2012, Syirian Geopolitics, http://www.thenews.com.pk , diakses 10 Mei 2012

[5] Vote for Putin: pro-Assad Syrians tell Russians, diakses 10 Mei 2012

[6] Henry Meyer, 2012, Putin Pins Hope on Syria Cease-Fire to Combat U.S. Supremacy, bloomberg, diakses 10 Mei 2012

[7] Hushein Shobokshi, 2012, Middle East in Focus, http://mepc.org/articles-commentary/articles-hub, diakses 10 Mei 2012


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: