politeethics


Pemikiran Marx : Agama sebagai Kesadaran Palsu; Dulu dan Kini
January 27, 2012, 4:04 pm
Filed under: Catatan Cuma

Ini adalah tulisan yang menggambarkan metamorfosa filsafat pribadi. Jika Marx mengatakan bahwa religion is an ophium, maka orang lain beranggapan bahwa Filsafat Marx lah yang candu.

_________________________________________________________

Filsafat Sosial dewasa ini sangat dirasakan kepentingannya. Hal ini didasarkan pada perubahan dan kemajuan yang bersama-sama dialami oleh umat manusia banyak sekali berbagai persoalan yang dimintai perhatian, khususnya yang menyangkut kehidupan sosial manusia. Kita dewasa ini mengalami kesadaran ideologis yang kuat. Dalam suasana umum itu terdapat satu hal yang urgen, yaitu tampilnya kemuka suatu “Grundform” dari kehidupan manusia, yang disebut sosialitas (Drajarkara, 1962:8).

Berhubungan dengan Filsafat Sosial ataupun Filsafat murni, para mahasiswa, orang awam, dan yang lain sebagian merasa takut bahwa filsafat akan membawanya pada keadaan atheis atau tidak mengakui Tuhan. Apalagi jika dibarengi dengan pemikiran Marx, yang menyebutkan bahwa agama adalah candu. Agama menanamkan kesadaran palsu supaya orang-orang mau menerima permasalahan sosial dan berharap terus pada datangnya dunia yang lebih baik. Hal ini bisa menanamkan dogma pada orang-orang bahwa agama adalah sesuatu yang sangat abstrak dan tuhan itu lebih absurd.

Sayang sekali kebanyakan orang-orang menilai suatu ucapan ataupun teori yang diungkapkan oleh tokoh-tokoh dari dan dengan apa adanya ( taken for the granted ). Sebenarnya ada suatu keadaan di masa itu mengapa para ahli, para filsuf, dan para tokoh pemikir mengemukakan pemikiran-pemikiran mereka mengenai sesuatu hal. Seperti Hadist dalam Islam, pemikiran-pemikiran para filsuf pun dipengaruhi oleh Asbabun Wurud, atau yang disebut dengan sebab-sebab turunnya sesuatu. Menilik dari pemikiran Marx yang mengungkapkan bahwa agama adalah candu, agama menanamkan kesadaran palsu pada orang-orang supaya mereka dapat menerima permasalahan sosial begitu saja dan berharap terus pada dunia yang lebih baik. Pada masa Marx memikirkan ini, suasana keagamaan memang menjadi sesuatu yang tidak jelas dan dirasa terlalu abstrak untuk dimengerti peranannya. Pada masa itu terjadi pergolakan antara kaum kapitalis dan rakyat biasa. Kaum kapitalis seperti menguasai segalanya. Mereka biasa merampas hak milik yang dimiliki oleh rakyat jelata. Hal ini didukung oleh ketidakmampuan ataupun ketidakmauan aparat penegak hukum saat itu menjalankan fungsi perlindungan dan penyelesaian konflik. Rakyat biasa benar-benar tertindas dan tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membela diri dan keluar dari permasalahan yang mendera. Mereka seperti kehilangan visi ke depan, melihat bahwa semua ini akan berjalanm terus menerus tanpa akhir.

Saat itu pula gereja menjadi satu-satunya tempat mengadu bagi mereka yang tertindas. Dengan membayar beberapa jumlah uang, mereka dapat melakukan pengakuan dosa dan pengharapan terhadap hidup mereka ke depannya. Hal ini satu-satunya yang dapat menjadi pelita di tengah kegelapan yang melingkupi kehidupan rakyat biasa. Dengan keadaan seperti itu mereka terus berharap akan kehidupan yang lebih baik. Setiap ada masalah yang dirasa mereka tak sanggup lagi menanggungnya, mereka lantas pergi ke gereja, membayar beberapa jumlah uang, dan melakukan pengakuan dosa dan pengharapan yang semoga didengar oleh Tuhan. Melihat kejadian itu lantas Marx menyebutkan bahwa agama adalah candu. Hal ini dikarenakan siklus dari rakyat biasa mengunjungi gereja dan apa latar belakangnya berkunjung. Rakyat biasa pergi ke gereja ketika mereka telah merasa menanggung beban yang berat dan menjalani kehidupan yang buruk karena ketertindasan mereka dalam kehidupan itu sendiri. Kemudian ditambah dengan paham bahwa agama hanya menanamkan kesadaran palsu supaya orang-orang dapat menerima permasalahan sosial yang terjadi dan terus berharap terhadap datangnya dunia yang lebih baik.

Hal ini dilihat oleh Marx karena tidak adanya usaha yang berarti dari rakyat yang tertindas untuk mengubah nasibnya. Mereka menerima beban tersebut lalu pergi ke gereja untuk memohon kehidupan yang lebih baik tanpa melakukan suatu tindakan yang mempunyai kekuatan makna untuk keluar dari ketertindasan itu sendiri. Telah sekian kali mereka ke gereja dan sekian kali juga mereka berharap akan kehidupan yang lebih baik. Tapi Marx melihat bahwa doa mereka sia-sia dan tidak di ijabah oleh Tuhan sehingga menyebabkan mereka mengalami keterpurukan secara terus-menerus. Hal ini yang dilihat Marx sebagai pengaharapan terus menerus mengenai dunia yang lebih baik dan ketidaksadaran rakyat bahwa agama adalah kesadaran palsu.

Jika dihubungkan dengan apa yang terjadi pada saat ini, sepertinya paham Marx tentang agama mempengaruhi mental dan cara berpikir masyarakat modern zaman sekarang. Dengan segala kelebihan dan keunggulan yang mereka alami dibandingkan dengan masa Marx, mereka lebih dipengaruhi akan rasa ketidakpuasan mereka terhadap sesuatu. Manusia menjadi budak akan sesuatu yang instan. Rasa sabar menunggu dan berharap terhadap sesuatu yang lebih baik mereka rasakan sebagai sesuatu yang tidak bisa diandakan untuk menjadi pegangan. Oleh karena itu sekarang banyak ditemukan orang-orang yang tak beragama ataupun yang tidak mengakui tuhan.

Sesuatu yang lebih mengagetkan lagi, sekarang sedang berkembang agama Google yang dikenal dengan aliran Googlisme. Berlandaskan dari keinstanan yang membudaki manusia, keinginan akan kepastian dan bukti yang ditunjukan mengalihkan keimanan beberapa manusia. Google dianggap sebagai ‘Tuhan’ yang paling pasti daripada ‘Tuhan yang lainnya’. Google memberi bukti langsung tanpa harus melakukan penghambaan yang ‘keterlaluan’ seperti agama lain. Agama Google mempunyai tagline untuk membabtis orang lain yaitu ‘Tuhan dipertanyakan, Google menjawab’. Keberadaan agama Google masih kontroversial apakah ini hanya sebuah lelucon atau benar bentuk sebuah kepercayaan baru. Satu hal yang jelas, menyembah Google bisa mematahkan pemikiran Marx yang yang mengatakan bahwa Agama hanyalah kesadaran palsu.

Lalu yang menjadi ganjal dalam pemikiran, apakah hal di atas yang diharapkan Marx dari pemikiran filosofisnya tentang agama. Apakah Marx bertujuan supaya orang-orang yang memahami pemikirannya akan beralih dari percaya pada agama menjadi tidak percaya ataukah Marx mengharapkan orang-orang berpikir kembali dan lebih memahami apa itu Tuhan dan menarik garis rasional yang dapat mendefinisikan Tuhan itu sesungguhnya. Jika melihat Prinsip Prediktif Uniformatif, mengungkapkan bahwa sekelompok kejadian akan menunjukkan derajat hubungan di antara mereka di kemudian hari sama dengan apa yang mereka perlihatkan pada masa yang lalu atau sekarang. Hal ini bersangkutan dengan Prinsip Kausalitas yang mengatakan bahwa setiap kejadian mempunyai sebab dan dalam situasi yang sama, sebab yang sama menimbulkan efek yang sama. Lalu apakah dua hal yang disebut di atas menjadi alasan Marx mengungkapkan pemikirannya tentang kesadaran palsu yang disebabkan agama?. Satu hal yang tidak terlalu absurd, seorang tokoh yang mengungkapkan pemikiran mempunyai harapan dan tujuan yang akan terjadi di masa datang berlandaskan pada pemikirannya.

 

Titus, Harold H., 1984. Persoalan-persoalan Filsafat. Jakarta: Penerbit Bulan Binta

Advertisements

Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: